Minggu, 21 Juni 2015

Hebatnya Seorang Ibu


Assalamualaikum wr.wb.
            “Kau lah ibuku cinta kasihku, pengorbananmu sungguh sangat berarti. Kau bagai matahari yang selalu bersinar, sinari hidupku dengan kehangatanmu”

Siapa yang tau lirik lagu di atas? Iya, itu adalah lirik lagu dari pelantun lagu religi Hadad Alwi. Ibu adalah seseorang yang sangat special disetiap kehidupan manusia. Tak jarang ketika membahas tentang ibu banyak yang menangis seperti yang sering saya lihat ketika ada renungan yang menceritakan pengorbanan ibu. 

Wajar saja sosok Ibu sangat dimuliakan oleh Agama Islam, ada banyak sekali dalil yang membahas tentang kemuliaan seorang Ibu, seperti :

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu.'” (HR. Bukhari no. 5971 dan Muslim no. 2548)

Sosok ibu tiga kali lebih dimuliakan dari seorang ayah, telah kita ketahui ibu memiliki peran yang sangat luar biasa. Karena kesulitan dalam menghadapi masa hamil, kesulitan ketika melahirkan, dan kesulitan pada saat menyusui dan merawat anak, hanya dialami oleh seorang ibu. Ketiga bentuk kehormatan itu hanya dimiliki oleh seorang ibu, seorang ayah tidak memilikinya.

Saat bulan Ramadhan ini saya benar-benar merasakan kehebatan seorang Ibu, ketika sahur ia bangun lebih awal menyiapkan makanan untuk makan sahur, ia membangunkan kami ketika semua hidangan makanan sudah tertata rapi dimeja makan. Tak pernah kujumpai ibu membangunkanku meminta bantuan untuk menyiapkan makan sahur. Ketika menjelang berbuka ia pun juga semangat sekali menyiapkan menu masakan untuk berbuka puasa, ibu memang pantang memerintah ia hanya memberikan teladan yang baik sehingga aku sendiri malu kalau tidak membantu pekerjaan rumah ketika ibu sibuk dengan pekerjaannya.

Di hari ke empat Ramadhan kali ini, aku pun merasakan begitu susahnya menjadi seorang ibu, tapi ibu tidak pernah menunjukkan kelelahannya itu.

Kemarin ibu ada pekerjaan yang penting, ia harus pergi pagi dan pulang sore untuk suatu urusan. Dan ibu meminta aku untuk menyiapkan semua menu berbuka puasa, tentu saja dengan senang hati saya terima permintaan ibu.

Ketika ibu berangkat, aku mulai bingung memikirkan menu apa yang akan dimasak untuk berbuka magrib nanti. Biasanya kalau dikosan cukup mengayunkan kaki membeli makanan ke warung atau ke pasar kalo pun masak paling populer tumis sayur kangkung  ditambah sedikit sambel atau ceplok telur hehe. nah kalo dirumah kan gak mungkin yah pake menu ala anak kosant, malu sama Ayah ! hiihih

Disela kebingungan, saya mulai saja dengan memasak nasi. Saya pikir kerjakan dahulu apa yang bisa dikerjakan. Kalau mikir terus gak ada action nanti keburu buka puasa tiba. Kali aja lagi asik masak nasi ketemu ide bagus. Dan taraaaaa, aku mandangin bahan-bahan yang ada di dapur, dapat ide baru bakal ngolah pempek menjadi martabak. Halaaaaaah, emang ada? Ada dong. Namanya Lenggang. Nah Lenggang ini adalah makanan khas Kota Palembang, ini cara bikinnya :
  • Pempek yang sudah direbus, di potong kecil.
  • Siapkan telur lebih krang 5 buah, kocok hingga halus tambahkan garam/penyedap rasa.
  • Lalu campur telur dengan pempek, ingat ya jangan semuanya. Yah lebih kurang 8 potongan pempek. Bayangin aja untuk bikin satu lingkaran piring martabak.
  • Terus di goreng deh, yang sabar ya.
  •  Selanjutnya bikin kuahnya (Cuka*bahasapalembang), kuah Lenggang sama seperti pempek pada umumnya.
  • Tinggal hias, biasanya pake timun di cincang halus, atau kalo mau pake udang halus juga enak. Hiaslah sesuka selera teman-teman.
  • *tips* Masaklah dengan rasa Cinta (dengan senang hati) , insha Allah semua suka. Hehe
Masih ada yang belum kenal dengan Lenggang, ayok kenalan dulu. Ehehe

Lenggang Patah-Patah :D
 
Ini namanya Lenggang
 
Selanjutnya saya masak gulai untuk lauk nasi, gak ribet lagi karena sudah ada ikan lele
yang disiapkan Ibu, tinggal digoreng terus disambel. Nyaamm..

Ini baru sehari loh dapat amanah mengolah rumah hingga menyiapkan menu buka puasa. Nah ibu kita ? setiap hari, bahkan bertahun-tahun seperti itu. Tidakkah kita bersyukur? Itu adalah nikmat yang diberikan oleh Allah. 

Untuk kita semua, selagi ibu masih ada, meringankan beban ibu adalah kewajiban untuk kita. Sehebat apa pun kita membalasnya takkan bisa mengalahkan semua pengorbanan ibu kita. Minimal kita membantu meringankan pekerjaannya dirumah, senyum ibu adalah semangat untuk kita. Jika ibu sudah Ridha terhadap kita secara otomatis ridha Allah akan selalu hadir dalam langkah kita. 

 Teruslah mencari ridha orang tua, karena ridha Allah tergantung dengan ridha orang tua, dan sebaliknya jika orang tua murka, maka Allah akan demikian.

Fastabiqul Khairat, Wassalamualaikum. Wr.wb

Perindu Pagi, 21 Juni 2015
           



                       

2 komentar:

  1. Sayang Amak .... :)

    Mbak, kunjungi blog Mardes: adhara23-mardes-nurhayati.blogspot.com

    BalasHapus

ditunggu kritik dan sarannya ya,

 

diarypopi.com Template by Ipietoon Cute Blog Design