Monday, March 13, 2017

" Selembar Memo untuk Umat dan Rekam Jejak Rekonsiliasi Dunia"

Oleh : Salman Alfarisi special for Milad IMM ke 53

Kita adalah manusia berpikir (human rational) seperti apa yang dikemukakan oleh freud, pakar psikologi mengenai kepribadian manusia serta fungsi IQ, SQ, EQ sebagai ujung tombak dalam menganalisis perbedaan dan ketimpangan sosial yang belakangan mendistorsi norma dan kearifan masyarakat luas, pun kemudian tak pelak ikut memicu perseteruan antar golongan, suku, ras, agama ! Permasalahan dan solusi telah dimuat diberbagai tempat, media, lembaga (dari internasional, nasional hingga regional).

Bukan barang sedikit saran dan pendapat yang dimunculkan dalam bentuk kebijakan, peraturan (Tap MPR, PP,  Kepres, Perda) bukan kurang masuk akal. Freud mengemukakan bahwa manusia memiliki 3 tingkat kesadaran, sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan bawah sadar (unconscious) yang berperan penuh atas tindakan, keputusan rasional maupun irasional manusia, lalu apa hubungannya dengan perpecahan dan perseteruan berabad-abad ini. Sebagian pakar berpendapat bahwa kurangnya sinergisitas 3 komponen penting kesadaran manusia (akal, qolbu, ruh) adalah penjelasan sederhana dari sekian sebab perlakuan manusia tidak normatif, namun sayangnya hal ini kurang diperhatikan dalam kehidupan bersosial. Melanjutkan dan melangkahi penyataan yang meradang itu, sebaris adagium dari romawi (plautus) diekstraksi kedalam buku De cive (The Citizen) oleh thomas hobbes " Homo homini lupus : manusia adalah serigala bagi sesamanya ", terbukti dari perang yang tercatat dalam sajak dan lembaran historis panjang animal rational, secarik, bukan bahkan berjuta eksemplar, dari perang mental ke metal, panah ke peluru, PD 1 ke PD 2, Perang opini, ekonomi dan politik. kian kemari memanas, kini hari makin membuas, dampaknya sangat mengerikan, Holocoust (propaganda yahudi hingga exodusnya kenegeri palestina), Pembantaian umat muslim dibrazil oleh salibis, afrika, konstantinopel, suriah, lebanon, irak, afghanistan, dan terbaru hingga ketenggara " myanmar ", keadaan de javu ini berulang terus tanpa henti, apakah kekonyolan tersebut hanya didasari oleh kelas sosial pemilik modal (seperti kicauan marx yang hampir saja senada dengan lenin dalam bukunya berjudul das kapital).


Dunia tidak pernah membaik bahkan pernah terjadi revolusi besar lain, revolusi amerika, revolusi industri dimulai dari britania raya hingga ke asia, titik balik abad pertengahan (renaisans) di eropa melahirkan revolusi prancis, beranak pinak hingga terbitlah zaman moderat yang kita rasakan masih memerlukan konsensus bersama . 

Ditimur tengah, kerajaan monarki bertahta, memerintah dan menjadi pelayan bagi 2 kota suci besar bagi umat islam pun tak luput dari perseteruan ! Adalah karena ekspansi besar besaran dibidang ekonomi, infrastruktur yang diprakarsai oleh digdaya amerika dan sekutu, katanya pula adalah bagian dari agenda besar sebuah organisasi tak tampak (invisible hand) perkumpulan para senator, maha raja, ratu, pangeran, filsuf, ilmuan, pakar, agen, pemikir (think tank), bermuara pada satu (The Freemansory), beberapa agen CIA membeberkan bahwa stabilitas serta kekacauan dunia ini semata - mata untuk menciptakan Tatanan Dunia Baru, dunia yang lepas dari campur tangan theology (Konsep Ke-Tuhanan) dan mengangkat tinggi nilai humanitas egaliter, dengan motto, teori yang membuat kening berkerut, liberalis, sekuleris, kapitalis, komunis, demokratis, fasis, Ideologi - ideologi yang sejatinya mempersempit eksistensi moralitas. 

Tetap saja Tiongkok, Korea Utara dengan komunisnya tidak lebih baik hari ini, demokrasi liberal Amerika jauh dari beradab belakangan ini, serta Jerman tak lebih perkasa menggunakan fasisnya, prancis tak lebih berdaulat menggunakan ideologi  kapitalis.

Bernostalgia kerevolusi prancis katanya kala itu menggunakan sistem (monarki absolut), dengan gagahnya pemangku kekuasaan mengorbankan > 40.000 jiwa, lepas itu direktori memindahkan kekuasaan ketangan napoleon bonaparte dengan motonya liberte, egalite, fraternite, kuat nyaring sampai ketelinga kita. Apa ini menghasilkan kesetaraan, keadilan, kedamaian, kenyamanan ?Nonsense.

Ada pula diindonesia sendiri pada tahun 1998, masih terbakar semangat menumbangkan orde baru, ribuan mahasiswa, LSM, Pemuka agama, Militer, Birokrat ikut andil menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia, tapi tidak, sekali kali belum, revolusi hanya memakan anaknya sendiri.

Ditengah pergulatan ideologi ini, islam hadir membawa konsep dan teori paripurna nan absolut, bukti kongkrit peradaban maju, multi dinamis, terstruktur, adil, sosialis, spiritualis dimulai pada Zaman Rasulullah S.A.W, khulafaur rasyidin, umayyah, abbasiyyah hingga runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmaniyah.

Semua hukum, konsep tata kenegaraan, sosio politik, pendidikan, teknologi, serta pelaku sejarahnya pernah menguasai 1/3 bagian bumi, teori keruntuhan kekhalifahan dapat dipertanggung jawabkan, disebabkan oleh khilaf ummah dan Khalifah untuk membersihkan nilai budaya eropa, dibuktikan dengan norma, budaya pasca jatuhnya peradaban tersebut, pun kini mulai menggrogoti moral intelektual muda, berbagai macam lauk dihidangkan kedalam benak, diimpor langsung, segar, menggiurkan, sedikit polesan janji keindahan duniawi, Kehormatan, Kekuasaan, Penghambaan, Popularitas maka jadilah ia sebagai Dewa yang tersirat lambat laun akan disembah.

Apa Tuhan menciptakan kekacauan ini ? Tidak, Einstein memaparkan eksistensi Ke-Tuhanan dalam literaturnya bahwa gelap itu tidak ada, hanya ketiadaan cahaya, begitu pula kejahatan atau kekacauan, terkait hal ini Allah S.W.T menerangkan kedalam Firman suci " QS. AR-RA'D 13:11 " (sesungguhnya Allah S.W.T tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka).

Jika begitu siapa yang harus memegang amanah besar ini ? Lalu dimana fungsi manusia terpelajar, yang diklaim sebagai makhluk penerus peradaban ? Bahkan Al -Mala - Ul-A'la pun Menghormati Kepandaian cucu cicit Adam A.s, yang pada hakikatnya diciptakan hanya beribadah kepada Tuhan Semesta Alam (Al Malik), mengajak pada yang baik, menjauhi apa yang mungkar.

Perpecahan, perseteruan bangsa, lembaga, organisasi, kelompok, personal hanya dapat diatasi dengan sikap professional, jujur, santun, sabar, membuang jauh " egosentris, dengki, hasad " sehingga tercapailah kemashlahatan bersama. Sebab itulah sifat manusia bila ditinjau dari psikologis sangat mempengaruhi kehidupan bernegara.

Saat ini Konsentrasi insan terdidik semestinya adalah untuk meluruskan, mencerahkan, mencerdaskan seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang bulu, warna kulit, payung organisasi. 
Pula Aktifis/kader sebagai manusia terdidik, master of change, master of control patut memperkokoh iman, ibadah, ideologi sebagai pondasi utama agar tidak dilumat perubahan zaman, sebab mereka ini ialah salah satu arteri utama sebuah bangsa.


Probably, Perbedaan bukan alasan untuk menjadikan kita insan kerdil, justru dengan adanya perbedaan sepatutnya seorang aktifis mampu menjadi aktor dan motor pemersatu kemajemukan.

Lambang sebuah organisasi juga lambang postmodernitas, pula cita, integritas, kualitas, kompetensi, target menuju insan yang hakiki, sehingga suatu saat mampu menegakkan Daulah Islamiyah kepenjuru langit .

Wallahu A'lam Bisawab
Pada kau Merahku ! Dari sini kolong langit, kusampaikan salam hangat.
#Fastabiqul Khairat

Post by : Popi Angriani
Yogyakarta, 15 Jumadil Akhir 1438 /14 Maret 2017

1 comment:

ditunggu kritik dan sarannya ya,