Rabu, 15 November 2017

Keinginan dan Kebutuhan




Sumber Foto : Google.com
Saya tau setiap manusia pasti selalu menginginkan kebahagiaan di dunia ini, menjadi orang terpandang, punya banyak uang, semua serba ada, dan kenikmatan duniawi lainnya. Terkadang kita sangat susah untuk memebedakan mana kebutuhan dan keinginan. Ragam manusia pun juga banyak di dunia ini, ada yang banyak harta namun tetap bersahaja, tetap rendah hati, suka menolong orang lain, bahkan memberikan separuh hartanya untuk saling membantu. Namun sering juga kita temukan orang yang tak memiliki apa-apa hanya sekedar bisa hidup, untuk makan besok harus bekerja keras hari ini namun memiliki sikap yang selalu mengikuti nafsu duniawi. Tak jarang hal seperti sering saya temui di kehidupan anak muda saat ini *kids jaman now katanya, yang seharusnya jiwanya dipenuhi semangat untuk menimba ilmu, terkadang jauh dari orang tua membuat mereka salah mengambil keputusan. Memang hak setiap orang untuk melakukan apa saja, namun melihat kondisi seperti ini saya jadi tertampar untuk sering-sering mengingatkan diri sendiri, memantau adik saya, sepupu-sepupu saya, keluaraga saya agar  tidak terjerumus ke sikap terlalu mengikuti trend duniawai yang terkadang menghalalkan segala cara.


Saya pribadi tak bisa mengelak bahwa masih sering ingin mengikuti nafsu dunia, seperti lebih memilih untuk membeli baju dari pada buku, lebih memilih membeli gincu  (baca : lipstick) dari pada kebutuhan kuliah, padahal gincu yang lain masih ada *dasarcewek. Tapi terkadang saya merenung, dan mikir kenapa nggak beli hal-hal yang benar-benar urgent yang memang benar-benar dibutuhkan. Well, saya hanya sebatas lipstick loh ya, gimana yang sering saya lihat dimedia sosial rela ngabisin duit banyak untuk terlihat cantik dikamera kemudian diupload biar bisa dilihat banyak orang apalagi cowok. It’s oke jika memang punya banyak uang, punya penghasilan gede, kalo masih mengadah tangan ke orang tua, mending dipikir lagi, ada hal yang lebih penting dipikirkan dan tujuan. Dan kembali lagi ini benar adalah hak masing-masing orang, tapi saya menulis ini real opini saya dan sebagai bentuk tamparan ke diri saya kalo saya juga memiliki sifat yang sama, karakter yang sama, namun kita juga punya akal dan pilihan untuk memikirkan mana yang prioritas.

Saya gak melarang cewek untuk dandan, it’s no problem, karena kodrat cewek memang mau terlihat cantik. Saya juga ngga setuju kalo ada cewek yang gak peduli sama body nya, cuek sama kebersihan tubuhnya, dan gak peduli sama kebersihan disekitarnya. Cewek juga hrus wangi, bersih, dan peduli kebersihan lingkungan. Tapi lakukan sewajarnya saja nggak perlu berlebihan, ingat orang tua yang susah payah nyari uang untuk nyekolahin anaknya. Bersikaplah biasa saja, sewajaranya saja, seamampunya saja, tidak perlu mengejar pujian dari orang lain, karena penilaian manusia tidak akan ada habisnya.

Lebih baik memikirkan bagaimana caranya untuk bisa memperbaiki diri, membahagiakan orang tua, dan tetap fokus mencari ilmu di jalan-Nya. Sejatinya semakin kaya dan berilmu seseorang maka akan menyederhanakan penampilannya. Di Jogja saya banyak belajar dari sang Guru, iya dosen saya kebanyakan adalah seorang Profesor namun sekilas orang lain tak akan mengira bahwa beliau adalah professor, karena tampilan mereka sederhana namun memberikan manfaat yang luar biasa.

Salam Perubahan,
Yogyakarta, 15 November 2017//26 Safar 1439


0 komentar:

Posting Komentar

ditunggu kritik dan sarannya ya,

 

diarypopi.com Template by Ipietoon Cute Blog Design