Sabtu, 23 Februari 2019

CERITA DIBALIK (MERAJUT)

Hari itu aku belajar membuat dompet dari rajutan untuk pertama kali, hasilnya gimana? Jelas sangat jelek dan ukurannya juga tidak terlalu besar (agar cepat selesai). Membutuhkan waktu sekitar dua hari aku menyelesaikannya. Aku bangga telah berhasil menyelesaikannya, meski masih kacau, motifnya pun gak jelas.
Belajar merajut tidak segampang yang aku lihat, butuh kesabaran dan ketekunan, dan aku salah satu orang yang gak sabaran dan gak terlalu tekun. Lah gimana kok bisa mau mengerjakan rajut merajut yang jelas membutuhkan dua hal itu: kesabaran dan ketekunan. Faktanya dua hal itu tidak hadir begitu saja namun bisa dilatih untuk menghadirkannya. Gak percaya? Coba aja!

Hasil rajutan pertamaku itu aku perlihatkan ke ibu.

Bu, ini hasil rajutan bikinan ku ! belum bagus” kataku dengan nada suara yang rendah.

wah, bagus sekali, untuk ibu ya” ibu langsung mengambil dompetnya.

Jelas aku terheran-heran kenapa dibilang bagus, padahal itu belum rapi, tali dompetnya pun keriting-keriting gitu karena hitungan rantainya ada yang salah. Aku hanya mengangguk memberi isyarat kalau boleh sekali.

Aku lihat ibu sudah mengganti dompetnya dengan dompet rajutanku, setiap hari selalu di pakai, kadang ibu bercerita kalau teman-temannya banyak yang bertanya dompetnya beli dimana, ibu bilang “ini anakku yang bikin” dengan ekspresi bangga. Wah aku terharu mengharu biru mendengarnya.

Hingga sempat berhenti merajut lagi karena selain susah (ya tadi karena gak sabaran) aku juga sudah sibuk dengan kuliah, aku sempat bikin rajut lain setelah dompet yang dipakai ibu, hasilnya aku berikan ke adik-adik ibu ku dan sepupu, nggak tau sih mereka suka apa nggak. Dan setelah itu aku benar-benar berhenti merajut, karena merasa gak ada peningkatan.

Suatu hari diujung telepon, ibu menceritakan kalau dompet rajutan bikinanku masih ia pakai dan hari minggu kemarin ia cuci karena udah buluk dan kotor katanya, pas dicuci jadi kayak baru lagi, dan ibu mengungkapkan rasa senangnya. Aku terharuuuuu untuk kesekian kalinya, dompet itu udah hampir dua tahun yang lalu aku bikin tapi masih dipakai dan dijaga oleh Ibu.

Sejak hari itu aku jadi bersemangat lagi untuk berkarya dengan benang rajut, mengasah skill kembali dengan merajut.  Harusnya semangatku sejak ibu mengapresiasi hasil rajutan pertamaku ya dua tahun yang lalu, namun aku terlambat menyadari betapa besarnya apresiasi dari seorang ibu kepada anaknya. Bisa jadi  telah banyak apresiasi yang diberikan oleh seorang ibu namun kita tidak menyadarinya.

Tidak perlu pergi ke pantai untuk meluaskan semangat, tidak perlu mendaki gunung yang tinggi untuk membangkitkan semangat, dan tidak perlu jauh untuk mencari penyemangat, penyemangat itu letaknya sangat dekat sekali salah satunya adalah Ibu.
ini hasil sembari nulis tesis dan tulisan ini hehe
Semoga kelak kita bisa menjadi orang tua yang selalu memberikan apresiasi atas pencapaian positif dari anak-anak kita, karena efeknya sungguh luar biasa bagi seorang anak. Terus belajar dari sekarang untuk menjadi orang tua terbaik, dan selalu berusaha agar manjadi anak yang baik bagi orang tua kita.

See you soon…

Yogyakarta, 23 Februari 2019

0 komentar:

Posting Komentar

ditunggu kritik dan sarannya ya,

 

diarypopi.com Template by Ipietoon Cute Blog Design